SEJARAH KELURAHAN NGRONGGO

  • Jun 29, 2026
  • Wahyu Widodo Purnanto

Jejak Perjuangan Prajurit Trunojoyo dan Lahirnya Kelurahan Ngronggo

Kelurahan Ngronggo merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Kota, Kota Kediri, yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Di balik perkembangan wilayah yang kini menjadi salah satu pusat permukiman dan pelayanan masyarakat di Kota Kediri, tersimpan kisah panjang yang diyakini berawal dari pergolakan politik dan militer di Jawa pada akhir abad ke-17.

Sejarah tersebut hidup melalui tradisi lisan (folklore) yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat dan hingga kini tetap dijaga sebagai bagian dari identitas Kelurahan Ngronggo.


Latar Belakang Sejarah

Perang Trunojoyo merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Nusantara yang berlangsung pada tahun 1674–1680, pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I dari Kesultanan Mataram.

Pemberontakan dipimpin oleh Pangeran Trunojoyo, putra bangsawan Madura dari keturunan keluarga Cakraningrat. Perlawanan tersebut muncul sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan pemerintahan Mataram yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat serta semakin bergantung pada campur tangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Perjuangan Trunojoyo berkembang menjadi gerakan besar yang berhasil menguasai sebagian besar wilayah pesisir utara Jawa hingga akhirnya merebut Keraton Plered, ibu kota Kesultanan Mataram, pada tahun 1677. Peristiwa tersebut memaksa Sunan Amangkurat I meninggalkan keraton dan dalam pelariannya beliau wafat sebelum berhasil merebut kembali kekuasaannya.

Setelah menguasai Jawa Timur, Pangeran Trunojoyo menjadikan Kediri sebagai pusat pemerintahan sekaligus benteng pertahanan utama dalam melanjutkan perjuangannya melawan Mataram dan VOC.

Namun, keadaan berbalik ketika Kesultanan Mataram menjalin aliansi dengan VOC. Pasukan gabungan tersebut berhasil merebut kembali Kediri pada tahun 1679, hingga akhirnya Pangeran Trunojoyo ditangkap dan dihukum mati pada tahun 1680. Berakhirnya perang ini menandai runtuhnya pusat kekuasaan Trunojoyo di Kediri.


Awal Mula Kelurahan Ngronggo

Menurut cerita tutur masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun, setelah berakhirnya Perang Trunojoyo terdapat sejumlah prajurit yang memilih meninggalkan kehidupan militer dan mencari tempat baru untuk menetap.

Di antara mereka terdapat tiga bersaudara yang dikenal sebagai Mbah Ronggo Jali, Mbah Coreko, dan Mbah Tirtoudo. Ketiganya dipercaya sebagai prajurit atau pengikut setia Pangeran Trunojoyo yang tetap mempertahankan idealismenya dan memilih meninggalkan wilayah Mataram karena tidak bersedia tunduk kepada kekuasaan yang telah dipengaruhi VOC.

Dalam perjalanan menuju wilayah timur, mereka tiba di daerah Kediri dan mulai membuka hutan (babad alas) sebagai tempat membangun kehidupan baru.

Untuk mempermudah pengelolaan wilayah, ketiganya kemudian menetap di lokasi yang berbeda namun masih berada dalam kawasan yang berdekatan.

  • Mbah Coreko membuka wilayah yang kemudian dikenal sebagai Dukuh Corekan, yang saat ini menjadi bagian dari Kelurahan Kaliombo.
  • Mbah Tirtoudo membuka wilayah yang dikenal sebagai Dukuh Tirtoudan, yang kini menjadi bagian dari Kelurahan Tosaren.
  • Mbah Ronggo Jali membuka kawasan di sebelah selatan Tirtoudan yang kemudian berkembang menjadi wilayah Ngronggo.

Ketiga wilayah tersebut hingga kini masih memiliki keterkaitan sejarah yang dipercaya berasal dari kisah perjalanan tiga bersaudara tersebut.


Mbah Ronggo Jali sebagai Tokoh Pendiri

Di antara ketiga bersaudara tersebut, Mbah Ronggo Jali dikenal sebagai sosok yang memiliki kecerdasan, kemampuan memimpin, serta ilmu kebatinan yang tinggi.

Karisma dan kebijaksanaannya membuat beliau dihormati masyarakat. Menurut cerita rakyat, beliau kemudian memperoleh kepercayaan dari Bupati Kediri dan diangkat sebagai salah seorang yang membantu menjalankan pemerintahan di wilayah tersebut.

Kepercayaan yang diterimanya justru menimbulkan kecemburuan dari kedua saudaranya.


Tragedi Bendo Gorok

Cerita rakyat menyebutkan bahwa Mbah Coreko dan Mbah Tirtoudo kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Mbah Ronggo Jali ketika beliau pulang dari menghadap Bupati Kediri.

Sebagai sosok yang memiliki kemampuan spiritual (linuwih), Mbah Ronggo Jali telah mengetahui rencana tersebut.

Namun beliau tidak memilih perlawanan.

Beliau justru menerima takdirnya dengan penuh keikhlasan dan hanya mengajukan satu permintaan, yaitu diperbolehkan melakukan mandi jamas sebagai bentuk penyucian diri sebelum menghadapi kematian.

Setelah selesai bersuci, beliau menemui kedua saudaranya di bawah sebuah pohon bendo.

Di tempat itulah Mbah Ronggo Jali dieksekusi dengan cara digorok oleh Mbah Tirtoudo.

Sejak saat itu lokasi tersebut dikenal masyarakat dengan nama Bendo Gorok, yang hingga kini masih dikenal sebagai bagian dari sejarah lokal Kelurahan Ngronggo.


Wasiat Darah Takir

Menjelang akhir hayatnya, Mbah Ronggo Jali meninggalkan sebuah wasiat yang hingga kini masih dipercaya masyarakat.

Beliau berpesan agar darahnya tidak dibiarkan menetes ke tanah Ngronggo, melainkan ditampung menggunakan takir yang terbuat dari daun pisang, kemudian dikuburkan di luar wilayah tempat tinggalnya.

Dalam filosofi masyarakat Jawa, wasiat tersebut dimaknai sebagai simbol penyucian tanah kelahiran agar tetap memperoleh perlindungan, keselamatan, kemakmuran, dan keberkahan bagi generasi yang akan datang.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau membuka kawasan tersebut, masyarakat kemudian mengabadikan nama Ronggo sebagai identitas wilayah yang berkembang menjadi Kelurahan Ngronggo.


Warisan Sejarah Hingga Kini

Lebih dari tiga abad telah berlalu, namun jejak Mbah Ronggo Jali masih tetap lestari di tengah kehidupan masyarakat.

Beberapa peninggalan sejarah yang masih dapat dijumpai hingga saat ini antara lain:

  • Kompleks Makam Ronggo Jali, yang menjadi tempat ziarah sekaligus lokasi penyelenggaraan tradisi Kirab Muharam, nyadran, dan doa bersama setiap tahun.
  • Jalan Ronggo Jali, sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau sebagai tokoh pembuka wilayah.
  • Berbagai tradisi budaya masyarakat yang masih terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas Kelurahan Ngronggo.

Dari Warisan Sejarah Menuju Kelurahan yang Maju

Semangat perjuangan, keberanian, dan pengabdian yang diwariskan Mbah Ronggo Jali menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam membangun Kelurahan Ngronggo hingga saat ini.

Kelurahan Ngronggo berkembang menjadi salah satu wilayah yang dikenal melalui berbagai inovasi pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, pengembangan UMKM, pembinaan generasi muda, serta pembangunan Ngronggo Sport Art Centre (NSAC) sebagai pusat kegiatan olahraga, seni, budaya, dan ruang interaksi masyarakat.

Kelurahan Ngronggo juga pernah mengukir prestasi nasional melalui program Ngronggo Bersinar Hebat (Bersih Narkoba, Harmonis, Eksis, Berbudaya, Amanah, dan Tangguh) yang menjadi pelopor gerakan pencegahan penyalahgunaan narkoba berbasis masyarakat di Kota Kediri.

Kini, melalui semangat Ngronggo Joyo, pemerintah kelurahan bersama seluruh elemen masyarakat terus melanjutkan pembangunan menuju kelurahan yang sehat, berbudaya, inovatif, dan berdaya saing, tanpa melupakan akar sejarah yang telah diwariskan oleh para pendahulunya.

Dengan demikian, sejarah Kelurahan Ngronggo tidak hanya menjadi catatan masa lalu, melainkan juga menjadi fondasi moral yang memperkuat identitas masyarakat dalam membangun masa depan yang lebih baik.